Minggu, 06 Juli 2008

PUISI

Luruh Laraku
Berpuluh puluh badai menghajarku
Ribuan peluru menerjangku
bermacam senjata menghujamku
Membuat hatiku beku mengaku

berhari, berbulan, berulang kali
engkau meluluhlantakkan harapanku
menerpaku, menerjangku
Hingga satu titik yang tersisa
"Masih adakah hari esok?"


Penantian
Ku tetap tegar tuk berdiri
menanti kau yang tak pasti
Darah, airmata, hati
aku curahkan agar menjadi
Tapi engkau selalu pergi
Dimana ku mencari
di sini ku kan menanti
hingga mati


Hidup Itu Proses
Tidak kah engkau lihat
sirkulasi siang dan malam
meskipun sekarang engkau sekarat
Kebahagiaan kan datang mendekat

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda